ISPtimes.com – Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) digagas dan dipimpin oleh pianis serta komponis internasional Ananda Sukarlan, dengan konsep dari manajernya (Chendra Panatan, Direktur Ananda Sukarlan Center) dan diselenggarakan bersama mitra lokal di berbagai kota.
Kompetisi ini bermula sebagai Kompetisi Piano Nusantara pada tahun 2016. Saat itu Ananda Sukarlan berkeliling ke beberapa kota (Makassar, Yogyakarta, Bandung, Jakarta) untuk mencari bakat pianis muda di bawah usia 18 tahun. Tujuannya adalah menjangkau bakat di luar Jakarta tanpa memaksa peserta datang jauh-jauh, dengan penyelenggara lokal yang bersinergi. Pada edisi awal, lebih dari 200 pianis muda berpartisipasi di empat kota.
Kompetisi vakum selama pandemi sekitar 2020 ke atas. Pada 2024, kompetisi diluncurkan kembali dengan penambahan kata “Plus”. Ini menandakan perluasan cakupan, tidak lagi hanya piano solo, melainkan juga instrumen lain seperti biola, cello, gitar, harpa, dan lainya. Musik kamar duo, trio, hingga quintet, vokal klasik khususnya Tembang Puitik yaitu karya musik berdasarkan puisi penyair, serta kategori untuk penyandang disabilitas.
KPN+ dirancang sebagai ‘kendaraan’ atau ajang persiapan yang lebih ringan bagi musisi muda umumnya usia dini hingga sekitar 17 tahun sebelum menghadapi Ananda Sukarlan Award (ASA), kompetisi paling bergengsi di tanah air saat ini dan tentu bertaraf lebih tinggi sudah berjalan sejak 2008, didirikan oleh Pia Alisjahbana.
Tahun 2026 ini KPN+ diselenggarakan di 10 kota, dengan jumlah peserta di atas 600, melebihi jumlah tahun lalu 587 peserta.
Ananda Sukarlan menuturkan ini menjadi magnet utama yang menarik para pemusik dari usia 5-17 tahun untuk mengikuti kompetisi yang kini adalah kompetisi musik klasik terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah peserta, dan juga banyaknya sponsor yang mendukungnya.
“Lampung dapat berbangga karena tahun ini memegang rekor dengan jumlah peserta terbanyak 102 peserta di antara 10 kota tersebut Surabaya, Medan, Yogyakarta, Bandung dll. Mitra penyelenggara Lampung adalah Amadeus Music Course dan diselenggarakan dalam dua hari, 17 dan 18 Oktober lalu di ballroom Hotel Akar,” ujarnya.
Diketahui setiap kota, Ananda Sukarlan bertindak sebagai juri didampingi oleh seorang juri muda. Di Lampung, ia didampingi oleh Angelica Liviana, dosen Universitas Pelita Harapan yang juga adalah almamaternya dan pendiri sekolah musik Piano & Co.
“Saya kagum dengan antusiasme dan minat terhadap pendidikan musik klasik di Lampung,” kata Ananda Sukarlan.
Ananda menjelaskan memang ini adalah hal yang baru di Lampung, sehingga masih sangat sedikit pemusik yang sudah dalam taraf lanjutan, yang sebentar lagi bisa melanjutkan kuliah musiknya. Meskipun demikian, dalam 3-5 tahun lagi Lampung akan sangat diperhitungkan dalam peta musik klasik Indonesia.
“Satu hal yang saya ingin peringatkan adalah masih terlalu sempit fokusnya ke instrumen piano. Belum ada vokalis klasik yang mengikuti KPN+, dan hanya ada satu pemain biola, yang ternyata cukup baik kualitas artistiknya sehingga memenangkan juara ke-3,” jelasnya.
Lampung akan sangat membutuhkan instrumentalis lainnya, seperti biola, klarinet dan juga vokal klasik. Di era Artificial Intelligence ini, musikus yang memproduksi musik seni bukan hiburan akan sangat dibutuhkan, karena AI masih belum bisa melakukannya dalam tahun-tahun kedepan ini.
Selain dianugerahi penghargaan tertinggi untuk warga sipil dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica”, Ananda Sukarlan juga telah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.
Ia juga seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000.
Lulus dengan summa cum laude dari Royal Conservatorium of Den Haag (Belanda), Ananda juga masuk dalam daftar 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia yang terbit di Hong Kong.
Nama pemenang lengkap dari KPN+ region Lampung yang berhak mengikuti babak Grand Final di Jakarta, 12 dan 13 Desember 2026 nanti adalah :
USIA DINI A:
JUARA 2 – Rayson Boen
JUARA 3 – Callysta Evangeline Aditia & Anarya Bandiani Waskito
USIA DINI B:
JUARA 1:
– Feline Putranto
– Enzo Dippanna Chandra
– Jason Boen
JUARA 2:
– Elbert Benett Fernando
– Giovynn Fidea Rustam
– Sheena Hollyn Larosa
JUARA 3:
– Filbert Maxwell Tanma
– Keira Alessa Wu
– Levia Gracelle Lim
– Sabiene Gilia Shaloom
USIA DINI C:
JUARA 1:
– Aruna Sachi Kayana
– Advendo Christofan Sipayung
– Victoria Williams
JUARA 2:
– Caleb Benedict Senjaya
– Xevier Baginta Sanioga Ginting
– Elenno Levien Wanjaya
– Gevio Arkatama Tandyanto
JUARA 3:
– Vanessa Nathania Ardy
– Jeannetska Salim
– Christal Ephesian Khohar
– Anindhita Cinta Aulia
MENENGAH B:
JUARA 1: – Reinhart Avery Hidayat
JUARA 2: – Michael Edmund Kuncoro & Mark Ethan Nugroho
JUARA 3 – Matthew Victorino Priyonggo
MENENGAH C:
JUARA 1: – Grazia Victoriel Elizabeth Thene
JUARA 2: – El Clement Devanka
JUARA 3:
– Claire Eduarta Chung
– Gishella Carolina Katelyn
– Carola Lu
INSTRUMEN VIOLIN JUNIOR:
JUARA 3:
– Siti Amirah Fayza
LANJUTAN C:
JUARA 1: – Levander Visentine & Shenika Junior Ivanka
JUARA 3: – Aletheia Arendt Tetirahkrista
PIANO 4 TANGAN:
JUARA 1:
– Shenika Junior Ivanka & Levander Visentine
JUARA 2:
– Jason Boen & Rayson Boen
– Reinhart Avery Hidayat & Michael Edmund Kuncoro
– Victoria Selina Ronaldo & Levina Visentine
JUARA 3:
– Feline Putranto & Aruna Sachi Kayana
– Grace Gunawan & Kayla Eliona
PEMULA B:
JUARA 1:
– Joyce Liu
– Keenan Clark Fischer Sihite
JUARA 2:
– Maria Gita Prayasti
– Sherlyn Erica Anita
– Lucretia Jelena Larosa
JUARA 3: – Nicholas Kim Oliver JH
PEMULA C:
JUARA 1: – Celine Ho
JUARA 2:
– Dave Peterson Harriman
– LeRoy Matthew Tanralili
– Benedict Keefe Adiyanto
– Levina Visentine
JUARA 3: – Jeslyn Angelina Djauhari & Shalom Zifanya Givency Queenzy Ondang
LANJUTAN B:
JUARA 1: – Joceline Selindra & Helena Ho
JUARA 3: – Kenta Aldwyn Amiruddin















