Selama berada di Lampung, Geoffrey Kent bersama rombongannya menginap di Lampung Marriott Resort & Spa, yang berada di tepi Teluk Lampung.
Resor tersebut menjadi tempat beristirahat sekaligus titik awal bagi rombongan untuk mengenal budaya setempat. Pengalaman yang disuguhkan mencakup kuliner khas Lampung, penampilan musisi lokal, serta pertunjukan tari tradisional.
Selain Tari Sigeh Pengunten, tarian penyambutan tamu khas Lampung, rombongan juga menyaksikan dua karya baru garapan tim The Hurun, yakni Tari Kejayaan Emas Swarnadwipa dan Muda-Mudi Dendang Ketipung Lampung.
Rangkaian pertunjukan itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Lampung kepada wisatawan internasional.
Kabar persinggahan Geoffrey Kent dan rombongannya pertama kali dibagikan oleh Selphie Bong, yang akrab disapa Ms Bong, salah satu pendiri The Hurun, kawasan wisata di pesisir Teluk Lampung.
“Kami tidak sedang berusaha menjadi Bali berikutnya. Lampung punya ceritanya sendiri,” ujar Ms Bong.
Menurut dia, Lampung memiliki kekhasan yang layak dikenal lebih luas, mulai dari hutan yang terus dijaga, kain tapis yang dikerjakan dengan ketekunan, hingga tradisi masyarakat dalam menyambut tamu.
“Kami bersyukur cerita itu sampai ke orang-orang yang sudah berjalan sejauh ini, dan senang bisa menjadi rumah mereka selama di sini,” katanya.
Geoffrey Kent: “Kami Akan Kembali!”
Kesan positif terhadap kunjungan tersebut juga disampaikan Geoffrey Kent melalui komentar di media sosial.
“Terima kasih telah menjadi tuan rumah yang luar biasa. Tim Anda sungguh luar biasa; sedih rasanya harus berpamitan. Tapi kami akan kembali! Salam dari Otavia, saya, dan para tamu kami,” tulis Kent.
Otavia merupakan istri Geoffrey Kent.
Ungkapan tersebut menjadi apresiasi bagi pihak-pihak yang terlibat dalam menyambut rombongan sekaligus menambah perhatian terhadap Lampung sebagai destinasi perjalanan mewah internasional.
Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi destinasi serupa, Lampung Marriott Resort & Spa dapat menjadi salah satu titik awal untuk menikmati kawasan Teluk Lampung, mengunjungi Taman Nasional Way Kambas, hingga menjelajahi kawasan Krakatau sesuai kondisi dan ketentuan perjalanan setempat.
Geoffrey Kent, Pelopor Perjalanan Mewah Dunia
Geoffrey Kent lahir pada 14 Juli 1942 di Rhodesia Utara, yang kini bernama Zambia, ketika kedua orang tuanya sedang melakukan perjalanan safari. Ia kemudian tumbuh besar di Kenya.
Pada usia 16 tahun, Kent mengendarai sepeda motor seorang diri dari Nairobi menuju Cape Town, Afrika Selatan, menempuh jarak lebih dari 8.000 kilometer. Pengalaman petualangan sejak muda itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya di industri wisata.
Setelah menempuh pendidikan di Akademi Militer Kerajaan Sandhurst dan sempat bertugas di Angkatan Darat Inggris, Kent mendirikan Abercrombie & Kent bersama orang tuanya, Kolonel John dan Valerie Kent, di Kenya pada 1962.
Ia dikenal sebagai salah satu pelopor safari fotografi mewah di Afrika, yang mengedepankan pengamatan satwa liar melalui kamera. Pada 1989, ia juga turut merintis perjalanan wisata menggunakan jet pribadi.
Di luar industri pariwisata, Kent pernah menjadi kapten tim polo yang dua kali menjuarai U.S. Open dan bermain dalam satu tim bersama Raja Charles III. Pada 1982, ia turut mendirikan Abercrombie & Kent Philanthropy, organisasi yang berfokus pada pelestarian alam liar dan dukungan bagi masyarakat setempat.
Kent juga merupakan anggota pendiri World Travel & Tourism Council (WTTC) dan pernah memimpin organisasi tersebut selama enam tahun.
Saat ini, ia menjabat sebagai Founder dan Chairman Emeritus Abercrombie & Kent serta Konsul Kehormatan Republik Kenya di Monako. Kisah perjalanan hidupnya dituangkan dalam memoar Safari: A Memoir of a Worldwide Travel Pioneer dan buku The Greatest Adventurer.
Persinggahan Geoffrey Kent dan rombongan di Lampung menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah ini kepada kalangan wisatawan internasional. Lebih dari sekadar tempat singgah, Lampung memiliki kekayaan alam, budaya, dan keramahan yang dapat menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan dunia.(*)















