“Transformasi ini bukan revolusi, melainkan kelanjutan dari kurikulum Merdeka Belajar, yang kini ditingkatkan menjadi kurikulum berbasis dampak,” kata Prof. Abdurrahman.
Unila mulai menerapkan pendekatan pembelajaran berdampak melalui pengembangan kurikulum di tingkat program studi.
Nantinya, konsep pembelajaran berdampak tersebut diintegrasikan ke dalam mata kuliah, tidak hanya sebagai nama atau tema, tetapi juga melalui bahan kajian dan struktur tugas mandiri yang mendorong keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kemasyarakatan.
Penyusunan kurikulum tersebut telah mencapai 90 persen dan dirancang agar selaras dengan kekhasan serta keunggulan masing-masing prodi dalam meningkatkan daya saing dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Untuk memastikan efektivitas transformasi ini, LPMPP Unila rutin melakukan audit mutu pembelajaran setiap akhir semester, dengan standar evaluasi yang telah disesuaikan untuk mengukur keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berdampak nyata.
“Mahasiswa bukan hanya belajar teori, tapi juga membangun empati dan solusi bagi masyarakat,” jelasnya.
Kampus bukan lagi sekadar tempat belajar, tapi laboratorium kehidupan tempat mahasiswa mengasah peran dan membangun masa depan supaya dapat menjadi agen perubahan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga relevan dan responsif terhadap kebutuhan zaman.
Menutup sesi perbincangan, Prof. Abe berpesan kepada mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan dinamika transformasi pendidikan saat ini. Ia menekankan, konsistensi, disiplin, dan kolaborasi merupakan kunci untuk menemukan peluang dan pencapaian yang lebih besar di masa depan. (*)















