“Who the f**k are you analyze our food when you don’t know sh*t dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Menurut Chef Juna dulu penilaian makanan dilakukan oleh para profesional di bidangnya dan mereka memiliki kolom atau halaman khusus di majalah atau koran untuk memberikan ulasan itu.
“Di Amerika tempo dulu, para food blogger benar-benar dipekerjakan oleh surat kabar atau majalah ternama, dan hanya dipekerjakan oleh orang-orang yang benar-benar mengerti dan berpengalaman,” jelasnya.
“Tetapi sekarang dengan adanya media sosial, siapa pun bisa dengan mudah mengungkapkan pendapatnya, mereka memberi rating pada makanan kita, padahal mereka sama sekali tidak tahu betapa beratnya jerih payah dan pengorbanan yang kita lakukan,” tambah Juna.
Lebih lanjut Juna mengatakan bahwa saat ini ada banyak food vlogger yang mendatangi tempat makan hanya karena dibayar, bukan karena mereka benar-benar memiliki minat pada dunia kuliner.’
“Dan maafkan saya, tapi para food blogger sekarang semuanya dibayar, mereka dibayar untuk datang dan menulis ulasan yang bagus,” kata Juna.
“Mereka bukan karena minat sejati mereka atau untuk menelusuri karir mereka di industri kuliner, tak. Semua yang mereka tulis adalah karena mereka dibayar,” tuturnya menambahkan.
Sebagai konsumen, kita juga harus membuka pikiran kita dan memberikan kesempatan kepada tempat-tempat makan yang mungkin belum dikenal atau tak terlalu populer.
Pengalaman pribadi merupakan hal yang terbaik untuk menjaga kepercayaan kita dalam memilih tempat makan.
Tak ada yang lebih memuaskan daripada menemukan permata tersembunyi atau tempat makan yang belum terkenal melalui penjelajahan sendiri.
Jadi, meskipun era media sosial sudah mempengaruhi cara kita menilai dan melibatkan diri dalam dunia kuliner, penting bagi kita untuk tetap bijak dan tidak terlalu bergantung pada ulasan makanan yang ada di media sosial.
Tetap berkreasi, menjaga sikap profesional, dan menghargai keunikan setiap tempat makan merupakan sikap yang bijaksana.















