“Karena waktu COVID ekonomi memang lagi turun banget, keluarga juga ada masalah keuangan. Di situ Mike memutuskan berhenti sekolah karena memang sekolah swasta,” kenangnya.
Sebagai manusia silver, Mike bekerja dari pukul 12.00 hingga 22.00 WIB demi penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Pekerjaan tersebut tak jarang membuatnya harus menahan rasa perih akibat cat yang melapisi tubuhnya.
“Kulit itu rasanya gatal dan panas. Racikannya pakai minyak goreng, kalau keseringan bisa merusak kulit,” ungkapnya.
Titik balik kehidupan Mike terjadi pada pertengahan 2024. Saat sedang mencari rezeki di kawasan Pasar Baru, ia diajak tim dari Captain Barbershop untuk membuat konten makeover.
“Waktu itu Mike lagi cari uang, tiba-tiba ada pihak Captain Barbershop minta izin buat konten makeover,” tuturnya.
Karena tak memiliki kegiatan lain, Mike pun menyetujui ajakan tersebut. Video transformasi itu kemudian viral dan ditonton lebih dari 5 juta kali. Sejak saat itu, sejumlah agensi mulai menghubunginya.
Salah satunya adalah Hans dari agensi model Humans, yang melihat potensi besar pada karakter wajah Mike untuk dunia fashion kelas atas.
“Wajahnya kecil, rahangnya tajam, dan tulang pipinya tinggi. Karakter seperti ini kuat untuk editorial maupun runway,” ujar Hans.
Kini, Mike telah resmi berkarier sebagai model profesional. Ia tercatat pernah tampil di ajang bergengsi Plaza Indonesia Fashion Week, serta membawakan busana dari sejumlah jenama dan desainer ternama, seperti Signore, Danjyo Hiyoji, hingga Sapto Djojokartiko.
Didampingi sang ibu yang kini selalu berada di sisinya, Mike Octavian menjadi simbol keberhasilan mengubah nasib—dari jalanan menuju panggung cahaya industri fashion.(*)















