Untuk mencapai kesejahteraan, misalnya, PDB per kapita harus naik, dari sekarang USD 4.700 ke USD 15.600. Selain itu, untuk mencapai ketahanan pangan, Global Food Security
Index Ranking juga harus meningkat, dari saat ini 63 menjadi 20.
Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas, setidaknya terdapat empat pilar strategi pembangunan yakni ketangguhan, kesejahteraan, inklusivitas, dan keberlanjutan.
Dalam pandangan Arsjad, untuk menjadi negara tangguh,
Indonesia harus mampu meningkatkan ketahanan pangan dan kesehatan.
“Tanpa perut yang terisi dan tubuh yang sehat, jangan berharap kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan,” sebutnya.
Sementara, dalam ketahanan kesehatan, selama ini, 99,99 persen bahan baku obat-obatan, bahkan paracetamol masih didatangkan dari luar negeri atau impor.
Sesuai dengan visi perekonomian NU dalam memperkuat dan memberdayakan ekonomi Indonesia, Arsjad pun mengajak warga Nahdliyin, termasuk para generasi mudanya untuk berani terjun meningkatkan rasio kewirausahaan Indonesia yang masih rendah. Rasio itu, sebut Arsjad, hanya 3,4 persen di 2021, dengan target 3,9 persen di 2024. Padahal, rasio kewirausahaan di negara maju bisa mencapai 12 persen dari total populasi.
“Terutama para mahasiswa dan pemuda, saya mengajak untuk berani menjadi pengusaha yang memiliki jiwa enterpreunership yang berkualitas,” ujar Arsjad.
Sarasehan yang diikuti ratusan peserta ini juga menghadirkan pembicara, antara lain Ketua Tanfidziah PBNU Alissa Wahid serta Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Teguh Dartanto.















