Temu Seni Performans Indonesia Bertutur: Mitos sebagai Model Pengetahuan

Temu Seni Performans Indonesia Bertutur: Mitos sebagai Model Pengetahuan
Temu Seni Performans Indonesia Bertutur: Mitos sebagai Model Pengetahuan

Temu Seni dirancang sebagai laboratorium bersama bagi para praktisi seni kontemporer, kegiatan ini bukan reahersel bagi karya “jadi”.

Para peserta dipilih berdasarkan rekam jejak dan kesungguhan untuk bertemu serta berbagi pengalaman dan metode praktik mereka dalam menguatkan ekosistm seni yang mandiri dan jejaring kesenian di tanah air.

Bacaan Lainnya
Temu Seni Performans Indonesia Bertutur:
Temu Seni Performans Indonesia Bertutur:

Para seniman terpilih adalah: Kiki Windarti, John Heryanto (Tubaba) Luna Dian Setya, Sekar Tri Kusuma (Solo), Syamsul Arifin (Sampang), Robby Ocktavian (Samarinda), Ayu Permata Sari ( Lampung Utara), Syahrullah (Samarinda), Shuko Sastro Gending (Magelang), Alghifahri Jasin (Makassar), Impoe (Tuban), Hanif Alghifary (Bogor), Tamarra (Yogyakarta), Riyadhus Salihin (Bandung), Susan ( Lampung Barat), Gilang Anom Manapu Manik (Bandung), Anisa Nabilla Khairo (Padang), Soemantri Gelar (Jakarta) dan Enny Asrinawati (Depok).

Seniman terpilih telah melakukan residensi mandiri di Cagar Budaya atau Warisan Budaya Tak Benda di wilayah masing-masing, dengan harapan para seniman bisa menciptakan karya berbasis riset dan juga memiliki materi sebagai bahan bandingan selama Temu Seni di Tubaba.

Rangkaian kegiatan berupa presentasi hasil riset, diskusi kelompok, kunjungan situs ( Pugung Raharjo dan Las Sengoq), sarasehan dan presentasi akhir yang bisa disaksikan oleh publik.

Pada sarasehan yang digelar hari Kamis 3 Agustus, dengan pembicara Umar Ahmad (pendiri Menuju Tubaba) dan St Sunardi (Univ Sanata Dharma), terungkap beberapa hal penting.

Mantan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad memaparkan bagaimana Tubaba bertumbuh dari hasil pendengarannya berdasarkan mitos-mitos lama: Ulluan Nughik, Las Sengoq dan Penyiloan.

“Mitos-mitos tersebut bukanlah sesuatu tanpa makna. Dengan mempertimbangkan konteks pada awal mula Tubaba dibangun, tepatnya saat Tubaba dijuluki sebagai kota “Bukan-bukan”: bukan lintasan dan bukan tujuan.

Tapi melalui mitos, dan pertemuannya dengan banyak orang, Umar membuat mitos-mitos tersebut menjadi visi yang produktif,” kata Umar.

Sementara itu, St Sunardi, mengapresiasi apa yang telah dilakukan Umar. Bagi filsuf yang berasal dari Yogyakarta, Tubaba bukanlah sekedar tempat, melainkan ruang yang memiliki energi, karena di Tubaba kerja kebudayaan bukan semata mengutamakan aspek wadagnya, melainkan aspek dinamik, yakni proses menjadinya.

Nardi, mengilustrasikan satu kerja seni dari maestro Laeonardo Da Vinci, yang mencipta karya bukan semata memiesis satu benda melainkan mengambil spirit burung untuk penciptaan karyanya.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *