Kini salah satu murid dari program tersebut telah memberikan kontribusi yang nyata. Jinan sendiri secara akademik masih tercatat sebagai mahasiswa semester akhir jurusan Teknik arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta.
“Studio Tanoh Nughik” Berdiri di atas lahan 200 meter persegi, bangunan ini memiliki luas 173 meter persegi, terbuat dari 80 ribu material bata merah.
Gaya arsitektural yang menarik, salah satunya karena memiliki dua kubah seperti bentuk botol, dengan diameter 5 dan 6 meter, dengan ketinggian sekira 9,5 meter. Keunikan lain dari bangunan tersebut adalah rekayasa cahaya, Jinan membiarkan cahaya matahari masuk melalui lubang kubah yang dibiarkan terbuka (pada bagian atapnya hanya ditutup dengan kaca), membuat kejatuhan cahaya pada lantai semen membentuk citra tersendiri.
Dengan berbagai keunikan tersebut, tidak heran sejak hari raya lebaran pada tanggal 2 Mei lalu, meskipun belum sepenuhnya selesai, bangunan ini telah menjadi kunjungan favorit warga, setiap hari ratusan warga Tubaba dan juga warga Lampung berswafoto di sejumlah titik bangunan, baik pada bagian dalam, maupun pada bagian luar bangunan.
Berdiri di Kota Budaya Ulluan Nughik, Panaragan, berdirinya studio keramik yang ikonik tersebut, menambah bangunan-bangunan ikonik lain di Tubaba. Lebih khusus di Ulluan Nughik, melengkapi fasilitas di kawasan tersebut, dalam dua tahun terakhir sejumlah fasilitas dan program kebudayaan telah diciptakan, di antaranya ampi teater, rumah batu (studio tempa badik), selasar seni, kedai kopi dan sejumlah rumah panggung yang difungsikan untuk program-program pendidikan dan kebudayaan, terutama program yang digagas oleh Tubaba Cerdas dan Sekolah Seni Tubaba.













