Saranjana memang pernah ada di wilayah Kalimantan Selatan, tepatnya di Desa Oka-oka, Kecamatan Pulau Laut Kelautan, Kota Baru.
Beberapa bukti yang mencatat nama Saranjana merupakan peta Salomon Muller 1845, peta Isaac Dornseiffen 1868, kamus Pieter Johannes Veth 1868, dan Sketch Map of the Residency Southern and Eastern Division of Borneo 1913.
Menurut sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur, ada beberapa lokasi Saranjana.
Dalam studinya berjudul Saranjana in Historical Record: The City’s Invisibility in Pulau Laut, South Kalimantan, versi pertama merupakan keberadaan Saranjana di Kotabaru. Versi kedua terletak di teluk Tamiang, Pulau Laut dan versi ketiga di sebuah bukit kecil yang terletak di Desa Oka-oka.
Tak hanya itu, Mansyur juga menyinggung soal nama Saranjana yang dikaitkan dengan legenda Gunung Sebatung. Dikisahkan Pulau Laut dulu dikuasai Kerajaan Halimun yang dipimpin oleh Raja Pakurindang.
Sang raja memiliki dua anak yaitu Sambu Ranjana dan Sambu Batung yang sering berkelahi. Untuk mengakhiri pertengkarannya, sang raja akhirnya membagi kekuasaan untuk anaknya.
Sambu Batung menguasai alam manusia yang menjelma menjadi Gunung Sebatung. Sementara saudaranya, Sambu Ranjana menguasai alam gaib dengan membangun Kota Saranjana.















