Selain berbagi, Mirza juga menyoroti persoalan klasik yang ditemukan di lapangan, yakni drainase yang tidak berfungsi optimal. Ia mendapati sejumlah saluran air tertutup pengecoran oleh pemilik lapak, bahkan ada bangunan pedagang yang berdiri di atas drainase.
“Ini drainasenya nggak ada, jadi jalan yang harusnya lebar jadi sempit karena banyak pedagang yang pada maju,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar soal estetika kota, tetapi menyangkut potensi banjir serta kenyamanan aktivitas ekonomi di pasar. Drainase yang tertutup menghambat aliran air dan berisiko menimbulkan genangan saat hujan turun.
Kunjungan ini memperlihatkan dua sisi kepemimpinan: respons cepat terhadap persoalan infrastruktur sekaligus sentuhan humanis kepada masyarakat kecil.
Di tengah aroma sayur segar dan riuh suara pedagang, pesan yang ditegaskan jelas—pembangunan bukan hanya tentang proyek besar, tetapi juga kehadiran nyata dan kepedulian langsung kepada masyarakat.(*)















