ISPtimes.com – Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) semakin langka di alam liar, membuat upaya konservasi menjadi cukup krusial.
Salah satu harapan besar bagi spesies tersebut terletak di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Way Kambas di Lampung Timur yang telah berhasil memperbanyak populasi badak melalui metode semi in-situ atau semi alami.
Koordinator Medis dan Keeper SRS, Dedy Surya Pahlawan mengatakan, metode ini memungkinkan badak tetap mengekspresikan perilaku alaminya, termasuk dalam proses perkawinan dan reproduksi.
“Di SRS ini, kami merawat badak secara semi alami sehingga mereka masih bisa menjalani kehidupan yang mendekati habitat aslinya. Dengan metode ini, kami telah berhasil mendapatkan lima anak badak,” ucapnya.
Badak Sumatera adalah salah satu spesies badak paling terancam di dunia. Diperkirakan, populasi liar yang tersisa saat ini hanya sekitar 80 ekor yang tersebar di hutan Sumatera dan Kalimantan.
Sayangnya, perburuan liar dan hilangnya habitat akibat deforestasi terus menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan mereka.
“Saat ini, satu-satunya pusat konservasi badak Sumatera di Indonesia ada di SRS Way Kambas. Sementara di Kalimantan, hanya tersisa satu ekor badak Sumatera yang diketahui,” kata Dedy.
Sejarah Konservasi: Dari Kebun Binatang ke Suaka Semi Alami
Diketahui, Konservasi badak Sumatera dimulai sejak tahun 1980-an dan 1990-an, ketika pemerintah Indonesia mencoba mengirim beberapa individu ke kebun binatang dalam dan luar negeri untuk mempelajari kebutuhan biologisnya. Namun, pendekatan ini kurang berhasil dalam menghasilkan keturunan.
Akhirnya, pada tahun 1995, SRS Way Kambas didirikan sebagai pusat rehabilitasi dan pengembangbiakan badak Sumatera dengan metode semi alami. Sejak saat itu, tempat ini menjadi rumah bagi beberapa badak Sumatera yang berhasil berkembang biak.
Hingga kini, SRS telah berhasil mengembangbiakkan lima ekor anak badak, menambah populasi mereka di luar alam liar.
Tantangan Konservasi: Kapasitas yang Terbatas
Meskipun keberhasilan dalam perkembangbiakan badak Sumatera di SRS merupakan kabar baik, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas.
“Saat ini, kandang di SRS sudah penuh dengan 10 ekor badak, sehingga kami perlu mencari solusi agar program ini bisa terus berjalan,” tambahnya.
Ke depan, SRS akan terus mengupayakan peningkatan populasi badak melalui perkembangbiakan alami maupun teknologi reproduksi berbantu, seperti inseminasi buatan.
Kendati, keberhasilan konservasi ini juga bergantung pada upaya perlindungan habitat alami dan pemberantasan perburuan liar.
Harapan untuk Masa Depan
Badak Sumatera adalah bagian penting dari ekosistem hutan tropis Indonesia. Upaya konservasi yang terus dilakukan di SRS Way Kambas memberikan harapan bagi kelangsungan spesies ini. Dengan dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan organisasi konservasi, diharapkan populasi badak Sumatera bisa meningkat dan spesies ini terhindar dari ambang kepunahan.
Penyelamatan badak Sumatera bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi membutuhkan kolaborasi dari berbagai elemen untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa menyaksikan keberadaan salah satu mamalia purba ini di alam liar. (*)















