Fenomena Alam
Sementara itu, menurut Kepala Bidang Kesehatan Hewan Kabupaten Gianyar Made Santiarka, fenomena tersebut adalah fenomena alam.
Dirinya menduga jika burung yang berjatuhan itu karena tak kuat melawan cuaca ekstrem saat bertengger di pohon asem.
Cuaca yang ekstrem berupa hujan dan angin kencang ini terjadi karena masa peralihan musim kemarau menuju musim hujan.
“Karena hujannya terlalu lebat, kan jelas ada tekanan udara rendah, dengan rendahnya tekanan udara ini burungnya enggan lari,” kata Santiarka.
“Dia bertahan saja diam dan basah kuyup, itu menyebabkan dia sakit dan mati dan memang kekuatan burung berbeda dengan kekuatan lainnya,” lanjutnya.
Santiarka juga membenarkan jenis burung yang berjatuhan tersebut adalah burung pipit.
Meski ditemukan banyak yang mati, namun beberapa dari burung tersebut masih dapat bertahan hidup usai terkena sinar matahari.
“Di bulu burung itu, ada satkarotinya jadi sulit air itu menembus bulunya. Di samping itu juga ada kelenjar minyak di belakangnya ini,” ujar Santiarka.
Namun untuk mengetahui lebih pasti fenomena ini, Dinas Kesehatan Hewan Kabupaten Gianyar mengambil sampel burung.
Sampel tersebut akan diuji di laboratorium. “Untuk dianogsis selanjutnya kita ambil sampel dan kita cek ke lab,” tutupnya.















